Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini sangatlah tepat untuk menggambarkan pentingnya sebuah identitas. Hal ini berlaku untuk berbagai keadaan, termasuk dalam hal menjalankan usaha sebagai seorang creativepreneur. Dengan memiliki identitas, konsumen akan lebih mudah membedakan produk yang creativepreneur tawarkan dengan produk kompetitor lainnya yang serupa. Selain itu, identitas tersebut juga dapat menggambarkan berbagai hal lainnya terkait usaha anda, mulai dari jenis produk yang ditawarkan, target pasar yang dituju, hingga reputasi dari usaha itu sendiri. Terkait dengan hal ini, identitas sering disebut sebagai brand atau merek.

Sebuah brand dapat berupa nama, gambar, suara, atau bentuk lainnya. Salah satu bentuk konkrit dari brand adalah merek. Secara sederhana, merek adalah tanda yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Tanda tersebut dapat berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut.

Untuk melindungi merek, creativepreneur dapat mendaftarkan merek tersebut ke Direktur Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual untuk mendapatkan perlindungan hak merek. Setelah memiliki hak merek tersebut, creativepreneur mempunyai hak untuk menuntut pihak-pihak lain yang menyalahgunakan merek anda tersebut.

IPR symbols

Namun, perlu diingat bahwa brand merupakan keseluruhan unsur yang menunjukkan siapa anda dan produk anda tersebut. Untuk itu, perlindungan merek bukanlah satu-satunya unsur terpenting dalam mengukuhkan brand anda di pasar, dan berikut adalah tiga hal penting lainnya yang harus turut diperhatikan oleh para creativepreneur:

1. Brand awareness
Pastikan bahwa masyarakat mengetahui brand anda. Setidaknya, mereka pernah sekilas melihat atau mendengar mengenai brand anda. Saat ini terdapat banyak media sosial yang memungkinkan hal tersebut, seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Selain media sosial, creativepreneur juga dapat membuat website sebagai pusat informasi mengenai produk creativepreneur.

2. Brand police
Setelah menyebarluaskan brand anda, jadilah brand police untuk brand anda sendiri. Maksudnya di sini adalah anda harus senantiasa memperhatikan perkembangan brand anda di pasar. Salah satu hal penting yang diperhatikan adalah respon masyarakat terhadap brand anda, yang dapat anda lihat dengan menggunakan berbagai media, seperti Social Mention, TweetReach, Addictomatic, Google Alerts, atau Image Raider.

Selain memperhatikan respon mereka, anda juga dapat mencari tahu jika brand anda disalahgunakan. Jika hal tersebut terjadi, anda dapat menghubungi pihak tersebut untuk tidak melanjutkan penggunaan brand anda tersebut dengan catatan bahwa anda memang berhak atas brand tersebut dengan memiliki perlindungan hak kekayaan intelektual yang sudah dibahas sebelumnya.

3. Perjanjikan!
Tips terakhir yang tidak kalah mutakhir adalah memperjanjikan bahwa segala bentuk kekayaan intelektual yang terdapat atau timbul dari brand anda tidak dapat digunakan untuk kepentingan pribadi pihak lain, seperti karyawan creativepreneur atau pihak ketiga manapun yang bekerja sama dengan creativepreneur.

Tentunya creativepreneur dapat mengembangkan strategi lainnya yang mungkin lebih sesuai dengan karakter usaha creativepreneur. Namun, satu hal yang pasti adalah creativepreneur harus menyadari pentingnya brand anda dan mulai melindunginya.

Artikel ditulis oleh Klikonsul untuk pertama kalinya di Cliffworld.

Tags: , , , , , , , , ,