Berbeda dengan zaman dulu, internet sudah mempermudah sebuah band untuk menyebarluaskan musiknya dan mengumumkan keberadaannya kepada para pendengar yang mereka target. Teknologi juga membuat produksi musik menjadi semakin mudah. Cukup dengan modal laptop dan software musik (gratisan), seseorang dapat menciptakan lagu di kamarnya sendiri.

Musik bukan lagi merupakan sebuah hobi, tapi sebuah kegiatan yang dapat dimonetisasi. Jika bandmu adalah sebuah unit yang bermusik lebih dari sekadar hobi, sudahkah terpikir untuk menciptakan suatu kesepakatan di antara para personil band? Mungkin awalnya sungkan, karena kebanyakan band diisi oleh teman-teman sendiri. Padahal sesungguhnya kesepakatan itu dapat membantu band kamu supaya bisa bermusik dengan lebih mulus.

Jika kamu memutuskan bahwa band kamu adalah bisnis, hal pertama yang perlu ditentukan adalah struktur dari bisnis band ini. Apakah band kamu berbentuk unit solo atau partnership? Dalam unit solo, kamu membayar musisi cabutan untuk membantu kamu memproduksi lagu atau manggung. Dalam struktur ini, kesepakatan antar personil tidak dibutuhkan, sebab kamu mempertanggungjawabkan semuanya sendiri. Kewajiban kamu adalah membayar personil cabutanmu sesuai dengan tarif mereka masing-masing. Namun jika bandmu terdiri dari beberapa orang, sedikit banyak perjanjian perlu dilakukan. Dalam unit ini, kalian akan membagi keuntungan dan kerugian, semuanya ditanggung renteng bersama-sama.

Sebuah perjanjian band (PB) hendaknya mengatur hak dan kewajiban antara personil. Anggap saja perjanjian ini adalah prinsip-prinsip yang dipegang oleh band kamu. Di Indonesia, sebuah perjanjian sebetulnya tidak mutlak untuk dilakukan secara tertulis. Namun perjanjian verbal akan memberikan ruang bagi perdebatan, karena bisa saja kalian memiliki ingatan yang berbeda satu sama lain. Perjanjian tertulis sangat direkomendasikan. Masing-masing personil hendaknya paham akan kesepakatan band, sehingga sengketa di kemudian hari dapat dihindari.

Dalam bukunya tentang aspek hukum dalam musik, Richard Stim menganjurkan agar PB setidaknya mengatur poin-poin berikut:

1. Penyelesaian sengketa

Setiap kelompok suatu saat pasti akan berdebat, termasuk band. Tentunya suatu pertengkaran jangan sampai menghancurkan band itu sendiri. Sejak awal dapat disepakati, langkah apa yang harus diambil jika band mengalami debat kusir. Apakah pertengkaran akan diselesaikan oleh pihak ketiga, seperti manajer, atau langsung ke pengadilan?

2. Cara memecat atau mengangkat personil band

Untuk menghindari sakit hati, band kamu juga bisa menyepakati, langkah-langkah apa yang harus diambil jika ada seorang anggota yang akan dikeluarkan, atau ada orang lain yang ingin diajak bergabung. Apa syarat-syaratnya personil bisa dipecat? Bagaimana cara memecatnya? Pertanyaan yang sama juga perlu dijawab dalam hal mengangkat anggota baru.

3. Cara membagi pemasukan dan pengeluaran

Setiap uang yang didapatkan atau dikeluarkan, perlu disepakati cara penggunaannya. Sebaiknya pembagian pendapatan baru dilakukan setelah seluruh hutang dibayarkan. Sebagian juga bisa disisihkan sebagai kas untuk keperluan band. Kemudian, pengeluaran mana saja yang menjadi prioritas? Jika ada keuntungan, bagaimana cara membaginya? Berapa porsi pembagiannya? Kapan pembagian tersebut dilakukan? Kalian bisa saja sepakat bahwa pembagian keuntungan dibagikan tiap selesai manggung, tiap bulan, atau bahkan tiap tahun.

4. Pedoman saat band bubar atau seorang personil mengundurkan diri

Bubarnya sebuah band mungkin saja meninggalkan PR. Misalnya, apakah ada peralatan yang dibeli dengan uang band? Jika ada, bagaimana cara mencairkan peralatan tersebut dan membagi nilainya ke semua personil band? Hal yang sama juga berlaku untuk hutang band. Ketika seorang personil mengundurkan diri, perlu dilihat pula apakah dia memiliki hutang kepada band? Atau mungkin justru sebaliknya, band yang masih memiliki hutang terhadap dia? Sepakatilah cara menyelesaikannya.

Netral meneruskan karier bermusiknya dengan bendera NTRL karena sengketa merek dengan mantan personilnya (foto dari mtv.id).

Netral meneruskan karier bermusiknya dengan bendera NTRL karena sengketa merek dengan mantan personilnya (foto dari mtv.id).

5. Penggunaan nama, logo, dan lagu band

Penggunaan nama dan logo band dapat menjadi hal yang sensitif, terutama jika band bubar atau berpisah. Lihat saja kasus Netral yang harus mengubah nama menjadi NTRL karena kepemilikan nama ‘Netral’ ada di tangan personil yang mengundurkan diri. Syukur kalau pisahnya baik-baik. Kalau tidak? Kalian dapat menyepakati bahwa nama dan logo band dimiliki oleh para personil secara bersama-sama, sehingga penggunaannya juga harus berdasarkan kesepakatan bersama. Jika disepakati bahwa nama band dimiliki oleh satu orang, bagaimana pengaturannya jika orang tersebut mengundurkan diri? Atau jika band bubar, siapa saja yang boleh terus menggunakan nama band tersebut?

Hal-hal yang baru saja kita bahas dapat dituangkan dalam suatu PB yang sederhana atau panjang dan lebih rinci, tergantung dari kebutuhan dan sebesar apa band kamu. Jangan sampai rasa sungkan menghambat kemajuan band kamu sendiri. Poin-poin di atas, jika didiskusikan dengan jelas di awal, bisa saja menyelamatkan karier bermusik kamu di masa depan. Meskipun teman, profesionalitas tetap perlu dijunjung untuk maju bersama-sama. Kecuali kalian memang sepakat bahwa band ini hanya sekadar hobi, sakit hati justru dapat dihindari dari jauh-jauh hari.

Sumber di sini.

Tags: , , , , , , , , ,