Siapa yang tidak ingat Ada Apa Dengan Cinta (AADC)? Dari sekian banyak temanmu di Indonesia, entah itu di kampus, kantor, atau bahkan yang baru kenal sekalipun, sepertinya nggak gampang menemukan orang yang tidak tahu film Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra itu. Di tahun 2002, bioskop-bioskop Indonesia dibanjiri penonton yang ingin melihat film remaja garapan Rudi Soedjarwo ini, hal tersebut menjadikan AADC sebuah film yang fenomenal pada masanya.

Beberapa waktu lalu, kita semua dikejutkan dengan dirilisnya sebuah film pendek di Youtube. Berita menyebar melalui berbagai jejaring sosial, baik itu Facebook, Twitter, Path, sebut saja nama-nama jejaring sosial yang banyak digunakan di Indonesia, pasti tidak luput dari hantaran berita mengenai film pendek tersebut. Film itu tidak lain adalah kelanjutan kisah AADC yang menggantung pada awal tahun 2000-an.

Ada beberapa aspek menarik dari dirilisnya lanjutan AADC yang mengambil cerita dua belas tahun setelah ditinggalnya Cinta oleh Rangga ke New York. Film pendek ini sebenarnya merupakan sebuah iklan aplikasi messaging pada smartphone yang populer di Indonesia: Line. Satu kata untuk iklan ini: jenius.

Apa sebenarnya yang membuat kami memberikan cap ‘jenius’ untuk iklan Line? Tidak lain dan tidak bukan karena strategi marketing yang begitu cerdas.

Memiliki sebuah produk atau jasa yang bagus tidak ada artinya jika orang-orang tidak mengetahuinya. Kalau tidak ada yang tahu produk/jasa yang kamu tawarkan, otomatis kamu tidak akan punya pembeli. Kalau kamu tidak punya pembeli, maka kamu tidak akan bisa menghasilkan revenue untuk bisnis kamu. Kalau tidak ada revenue yang kamu hasilkan, what’s the point of running a business?

Smartphones sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Banyak aplikasi messaging yang menawarkan berbagai fitur menarik dan mereka semua bersaing untuk mendapatkan pengguna, salah satunya adalah Line. Dalam bersaing di market, Line menambahkan beberapa fitur yang mereka tujukan untuk menarik minat market supaya menggunakan aplikasi tersebut. Kemudian mereka melakukan kampanye pemasaran dalam rangka mengumumkan fitur tersebut ke market.

Marketing is the art and science of finding “prospects” – people who are actively interested in what you have to offer (Kaufman, 86). Banyak sekali cara untuk memasarkan suatu produk/jasa, bahkan dengan membuat selembar tulisan yang menjabarkan produk atau jasa kamu saja sudah dapat dibilang sebagai kegiatan marketing. Tapi apakah hal tersebut dapat dikatakan sebagai kegiatan marketing yang efektif?

Hal utama yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah content marketing adalah “finding prospects”. Pertanyaannya adalah, bagaimana? Di situlah ide kreatif kamu harus bermain. Kreativitas dan imajinasi dimaksud harus memiliki tujuan, supaya kamu juga tidak terlalu jauh berangan-angan. Tips kami: create attention.

Melalui kolaborasi dengan Miles Production dan AADC, Line telah berhasil menarik perhatian yang besar dan mendapatkan exposure yang sama besarnya untuk aplikasi mereka. AADC menjadi trending topics di Twitter hingga mendapat satu juta hit dalam satu hari di Youtube. It’s a well and successfully executed marketing campaign.

Line menetapkan suatu standar baru dalam dunia periklanan di Indonesia. Bahwa dengan perencanaan dan detil yang mantap, bukan tidak mungkin untuk membuat suatu gebrakan dalam dunia perfilman dan periklanan sekaligus. Hanya dengan enam orang yang merupakan pemeran utama dalam film AADC; sinematografi yang terencana dengan baik, sehingga dapat mengambil gambar dengan kualitas tinggi; dan strategi pemasaran yang kreatif, dapat menghasilkan suatu kreasi yang memiliki nilai maksimal. Pemanfaatan sarana non-konvensional, seperti Youtube, untuk menayangkan produk tersebut dan distribusi informasi melalui jejaring sosial, juga merupakan cara yang tentunya dapat digunakan untuk mendapat capaian yang efektif seperti iklan Line ini.

Jadi, jangan takut untuk mendobrak kebiasaan dan mulai berkreasi!

Sumber di sini.

Tags: , , , ,