Sebelumnya, Klikonsul pernah membahas mengenai Aspek Hukum Adaptasi Buku dalam Film yang menjelaskan kedudukan hukum Hak Cipta dari sebuah buku yang dieksploitasi menjadi sebuah Film di Indonesia. Kali ini, Klikonsul akan menjelaskan kedudukan hukum sebuah film hasil adaptasi dan perlindungan Hak Ciptanya berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia.

Baik karya film yang diadaptasi dari buku, ataupun bentuk karya lain yang pada intinya merupakan adaptasi, transformasi, atau bahkan terjemahan dari sebuah karya asli, pada umumnya dikenal dengan terminologi Karya Turunan (Derivative Works). Nah, sekarang timbul pertanyaan apakah Hak Cipta atas Karya Turunan dilindungi juga oleh peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia, sebagaimana Hak Cipta melindungi Karya Asli/Ciptaan?

Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra yang telah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1997, menjelaskan secara singkat di dalamnya bahwa, “terjemahan, adaptasi, aransemen musik, dan perubahan lain dari karya sastra atau karya seni harus dilindungi sebagai karya orisinal tanpa mengurangi hak cipta atas karya aslinya”, di mana konsepsi yang sama berlaku pula pada Undang-Undang Hak Cipta Indonesia yang dijelaskan dalam Pasal 40 ayat (2) dan Pasal 40 ayat (1) huruf n, yakni merupakan salah satu bentuk Ciptaan yang dilindungi sebagai Ciptaan tersendiri dengan syarat bahwa Ciptaan hasil dari adaptasi atau modifikasi atau transformasi tersebut tidak mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan asli. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Hak Cipta atas Karya Turunan juga dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Foto Daniel Radcliffe, Emma Watson, dan Rupert Grint dimiliki oleh Ilona Higgins.

Kembali pada contoh Karya Turunan yang pernah Klikonsul bahas di artikel sebelumnya, yakni adaptasi serial buku Harry Potter menjadi serial film. Serial film Harry Potter yang merupakan salah satu bentuk Karya Turunan, dilindungi Hak Ciptanya sebagai Ciptaan berdasarkan Konvensi Bern berserta peraturan perundang-undangan di Indonesia, sehingga Hak Cipta dari serial film tersebut bisa dieksploitasi secara ekonomi, dan Hak Cipta dari serial film tersebut berdiri sendiri meskipun tidak terpisah dan tidak melanggar Hak Cipta dari serial buku Harry Potter.

Eksploitasi Hak Ekonomi atas Hak Cipta tersebut bisa banyak bentuknya dan dapat dilakukan melalui lisensi-lisensi Hak Cipta kepada pihak-pihak lain. Franchise besar seperti Harry Potter, misalnya, dapat menjual lisensi baik dari karya asli maupun karya turunan dari serial buku tersebut. Lisensi itu dapat dimanfaatkan ke dalam berbagai karya-karya turunan, baik untuk film atau serial televisi, teater, komik, bahkan termasuk di dalamnya merchandise-merchandise dari seri Harry Potter. Pemanfaatan Ekonomi dari Hak Cipta, baik untuk karya asli maupun karya turunan, tidak terbatas jumlahnya, dan kesemua hal tersebut dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia.

Tags: , , , ,