Hak Cipta adalah suatu perlindungan hukum terhadap pembuat karya seni yang, biasanya, menciptakan karyanya di suatu wilayah negara tertentu. Jika kita mengatakan wilayah negara tertentu, lazimnya kita bicara proses tersebut terjadi di atas permukaan bumi. Namun, perkembangan zaman menunjukkan bahwa kini manusia bisa melakukan aktivitasnya sampai ke luar angkasa. Mungkin bahkan kamu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah bercita-cita untuk menjadi astronot sewaktu kecil.

Di tahun 2013, seorang astronot berkewarganegaraan Kanada bernama Chris Hadfield mengunggah sebuah video dirinya yang menyanyikan lagu berjudul Space Oddity. Lagu tersebut bukanlah karya yang ia ciptakan, melainkan sebuah karya yang diciptakan oleh David Bowie pada tahun 1969. Dalam situsnya, Hadfield mengatakan ia bermaksud untuk menunjukkan bahwa sejak empat belas tahun ke belakang ada kehidupan di atas sana, lebih dari sekadar manusia yang mencoba untuk menjelajah luar angkasa.

Jika dikaitkan ke persoalan Hak Cipta, David Bowie adalah pihak yang memegang Hak Cipta atas lagu Space Oddity. Lagu tersebut dilindungi oleh Hak Cipta di banyak negara, yang tentunya wilayah negara tersebut berada di atas permukaan bumi. Hak Cipta bukanlah perlindungan hukum yang berlaku di ruang angkasa (setidaknya, hingga saat ini belum ada ketentuan hukum yang menyatakan demikian). Lalu, bagaimana dengan apa yang dilakukan oleh Chris Hadfield 400 km dari permukaan bumi tersebut?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, mungkin ada baiknya kami berikan gambaran sedikit mengenai mengapa persoalan Hak Cipta bisa muncul dan menjadi hal yang rumit sehubungan dengan kegiatan manusia di luar angkasa. Pada dasarnya, kegiatan di luar angkasa, atau wilayah ruang angkasa, memiliki pengaturan sendiri dengan beragam instrumen hukum, dan hal ini berada di bawah rezim Hukum Antariksa (Space Law). Ruang angkasa sendiri sebenarnya bukanlah merupakan suatu wilayah yang berada dalam kekuasaan sebuah negara, akan tetapi rezim Hukum Antariksa mengatur hubungan antarnegara, sehingga tidak jarang yang menjadi subyek hukum dari pengaturannya adalah negara.

Kebetulan, persoalan ini tidak begitu rumit karena Chris Hadfield sudah meminta izin ke pihak David Bowie untuk memproduksi dan mendistribusikan lagu tersebut. Jika Hadfield tidak meminta izin, tentu akan banyak persoalan muncul karena apa yang ia lakukan, seperti yang diilustrasikan oleh The Economist. Singkat cerita, Hadfield membuat video ini dari stasiun angkasa yang berada di bawah wewenang lebih dari satu negara. Mengingat lagu Space Oddity sudah dilindungi Hak Cipta di banyak negara, Hadfield berpotensi melanggar hukum Hak Cipta di berbagai negara tersebut secara sekaligus, terutama jika ia tidak mendapatkan izin dari pihak David Bowie sebelumnya. Perlu ditelaah juga apakah izin dimaksud termasuk izin untuk untuk mengedarkan videonya melalui internet, yang mana pemutarannya dapat melintasi batas-batas negara, yang artinya, lebih banyak lagi hukum Hak Cipta berbagai negara yang Hadfield berpotensi hadapi.

Space Oddity dirilis sebagai single oleh David Bowie pada Juli 1969, beberapa hari sebelum Apollo 11 mendarat di bulan.

Space Oddity dirilis sebagai single oleh David Bowie pada Juli 1969, beberapa hari sebelum Apollo 11 mendarat di bulan.

Tapi ini bisa menjadi bahan diskusi untuk kita semua, karena kegiatan di ruang angkasa hanya akan semakin maju ke depannya. Beberapa contoh yang mungkin saja terjadi, jika seorang astronot membuat film di bulan, siapa yang berhak atas Hak Cipta dari karya tersebut? Astronot itu sendiri, atau justru negara yang memberikan kewarganegaraan terhadap sang astronot? Atau jika kita bicara mengenai apa yang dilakukan Chris Hadfield, jika ia menyanyikan lagu Space Oddity itu di hadapan rekan-rekan sesama astronotnya, bagaimana pengaturannya jika jumlah rekan-rekannya sudah memenuhi kriteria untuk dinyatakan sebagai publik (yang bukan tidak mungkin rekan-rekannya berasal dari negara yang berbeda-beda)? Apakah artinya Hadfield sudah mempublikasikan ulang karya David Bowie kepada publik dari berbagai negara?

Persoalan ini bukan tidak mungkin akan semakin banyak muncul dan rumit untuk diselesaikan di kemudian harinya jika tidak ada pengaturan yang jelas mengenai rezim Hak atas Kekayaan Intelektual di ruang angkasa. Masih banyak hal yang dapat dieksplorasi di ruang angkasa, yang artinya kegiatan manusia yang bersentuhan dengan obyek-obyek Hak atas Kekayaan Intelektual bisa terus bermunculan seiring dengan kegiatan tersebut. Mungkin kita bisa berkontribusi menyumbangkan pikiran mengenai hal ini?

Sumber di sini.

Tags: , , , , , ,