Bulan lalu, Ruben Onsu mengajukan gugatan sengketa merek di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Gugatan diajukan terhadap Jessy Handalim, pemilik merek “BENSU” untuk usaha bengkel susu dalam kelas merek nomor 43.

Dalam gugatannya, Ruben Onsu meminta singkatan nama “BENSU” dinyatakan sebagai singkatan nama orang terkenal. Ruben pun ingin dinyatakan sebagai pendaftar merek “BENSU” yang beritikad baik dan mempunyai hak tunggal/khusus untuk memakai merek tersebut.

Selain itu, Ruben juga meminta merek “BENSU” yang terdaftar atas nama Jessy Handalim dibatalkan. Alasannya: adanya persamaan dengan merek “GEPREK BENSU” milik Ruben dan permohonan Jessy Handalim diajukan atas dasar itikad tidak baik.

Foto diambil dari Twitter pribadi Ruben Onsu.

Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, mempertanyakan alasan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mengeluarkan sertifikat merek “BENSU” untuk Jessy Handalim. Merujuk pada Pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (“UU Merek 2016”), Minola Sebayang berpendapat bahwa permohonan merek Jessy Handalim harusnya ditolak. Pasal tersebut menyatakan bahwa permohonan ditolak jika merek merupakan atau menyerupai nama atau singkatan nama orang terkenal, kecuali ada persetujuan tertulis dari yang berhak.

Dikatakan oleh Minola Sebayang, Ruben Onsu sudah menggunakan “BENSU” sebagai nama aliasnya sejak tahun 1997. Nama “BENSU” pun semakin lekat dengan Ruben Onsu seiring dengan melejitnya karier presenter berbagai acara infotainment tersebut. Bahkan, nama “BENSU” pun telah mendapatkan penetapan hukum sebagai kesatuan nama Ruben Onsu per 30 Mei 2018.

Sang kuasa hukum kemudian mempermasalahkan mengapa sertifikat merek milik Jessy Handalim berlaku sejak tanggal permohonan mereknya diterima di tahun 2015. Padahal, sertifikat tersebut baru diterbitkan tanggal 7 Juni 2018 lalu. Menurutnya, penerbitan sertifikat merek “BENSU” untuk Jessy Handalim harusnya diproses dengan menggunakan ketentuan dalam UU Merek 2016, bukan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek (“UU Merek 2001”).

Berdasarkan Pasal 104 ayat 1 UU Merek 2016, semua permohonan merek yang diajukan berdasarkan UU Merek 2001, tetapi belum selesai diproses pada tanggal berlakunya UU Merek 2016, akan diselesaikan berdasarkan ketentuan UU Merek 2001. Permohonan merek Jessy Handalim diajukan tahun 2015 dan UU Merek 2001 lah yang beraku pada saat itu. Dengan demikian, permohonan Jessy diproses berdasarkan ketentuan UU Merek 2001.

UU Merek 2001 sendiri tidak mengatur bahwa permohonan atas merek yang merupakan atau menyerupai singkatan nama orang terkenal harus ditolak. Pasal 6 ayat (3) huruf a UU Merek 2001 hanya mengatur bahwa permohonan yang harus ditolak adalah permohonan atas merek yang merupakan atau menyerupai nama orang terkenal. Tidak ada penjelasan lebih lanjut apakah nama tersebut termasuk singkatan nama atau tidak. Berdasarkan ketentuan ini, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual tidak mempunyai alasan untuk menolak permohonan Jessy Handalim.

Selanjutnya, UU Merek 2001 mengatur bahwa merek terdaftar mendapat perlindungan hukum selama 10 tahun sejak tanggal penerimaan. Berdasarkan portal Pangkalan Data Kekayaan Intelektual, permohonan Jessy Handalim diterima per tanggal 3 September 2015. Sejak tanggal itu lah perlindungan hak merek diberikan kepadanya, bukan sejak tanggal sertifikat merek diterbitkan.

Hal keberlakuan hak merek yang didaftarkan berdasarkan UU Merek 2001 diatur dalam Pasal 104 ayat (2) UU Merek 2016. Pasal ini menjamin bahwa hak tersebut tetap berlaku menurut UU Merek 2016 selama sisa jangka waktu perlindungannya. Namun, tanpa penjelasan lebih lanjut, Pasal 104 ayat (2) UU Merek 2016 dapat menimbulkan setidaknya dua interpretasi.

Interpretasi pertama adalah merek yang telah terdaftar berdasarkan UU Merek 2001 tetap berlaku, namun tunduk pada ketentuan UU Merek 2016. Jika demikian, Ruben Onsu mempunyai posisi yang kuat untuk memintakan pembatalan pendaftaran merek “BENSU” di kelas 43 milik Jessy Handalim. Pasal 77 ayat (1) UU Merek 2016 memungkinkan pengajuan gugatan pembatalan pendaftaran merek oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan, salah satunya, Pasal 21 – pasal yang memberikan dasar bagi penolakan permohonan atas merek yang merupakan singkatan nama orang terkenal.

Dalam interpretasi kedua, merek yang terdaftar berdasarkan UU Merek 2001 tetap berlaku dan tunduk pada ketentuan UU Merek 2001. Jika demikian, permintaan Ruben Onsu untuk pembatalan merek “BENSU” milik Jessy Handalim mungkin tidak akan dikabulkan.

Pasal 68 ayat 1 UU Merek 2001 memungkinkan pengajuan gugatan pembatalan pendaftaran merek oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan, salah satunya, Pasal 6. Sayangnya, Pasal 6 ini tidak mengatur soal penolakan permohonan atas merek yang merupakan atau menyerupai singkatan nama orang terkenal. Walaupun Ruben Onsu dinyatakan sebagai orang terkenal oleh pengadilan, permintaan pembatalan pendaftaran merek milik Jessy Handalim tetap tidak berdasar. Oleh karenanya, permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan.

Perjalanan kasus sengketa merek “BENSU” ini terhitung baru. Sidang pertama saja baru diadakan tanggal 11 Oktober lalu. Kita harus menunggu beberapa bulan lagi untuk mengetahui hasil akhirnya, apalagi kalau pihak yang kalah mengajukan kasasi terhadap putusan pengadilan. Nah, sambil menunggu, bagikan pendapat kalian di kolom komen di bawah ini ya!

Tags: , , , , ,