Pengumuman Kabinet Kerja Presiden baru Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo mengejutkan banyak pihak, baik dari segi restrukturisasinya, maupun dari segi nama-nama yang terpilih. Banyak harapan yang dibebankan kepada Jokowi, dan kecewalah saya ketika bidang ekonomi kreatif tidak mendapatkan kementeriannya sendiri, bahkan hilang sama sekali. Minggu lalu kita masih punya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sekarang kita disuguhi Kementerian Pariwisata tok.

Hilangnya bidang ekonomi kreatif dari arus utama Kabinet Kerja mengejutkan karena Relawan Jokowi sebagian besar terdiri dari seniman. Tentu, saya yakin, ekonomi kreatif tidak hilang begitu saja. Setelah kemarin mendapat kementerian khusus saja, ekonomi kreatif masih menghadapi dualisme di Kemenparekraf dan Kemdikbud. Sekarang mungkin dia ‘hanya’ terdilusi entah di kementerian yang mana.

Ternyata Jokowi-JK memiliki rencana lain. Selasa lalu, 28 Oktober 2014, diumumkan bahwa kita akan memiliki suatu badan ekonomi kreatif. Menurut Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, badan ekonomi kreatif ini dibentuk supaya jangkauannya lebih kuat dan posisinya nanti sedikit di bawah kementerian. Melalui badan ini, Jokowi-JK berjanji akan memberikan perlindungan penuh pada kreasi dan inovasi. Berita ini membuat saya merasa diberi hadiah.

Konser 2 Jari Jokowi-JK

Mengutip makalah UNIDO (2013),1 inovasi memang cenderung naik ke permukaan di mana nilai kreativitas diterima dengan baik, dengan kebebasan tinggi dalam beragenda; di mana bakat-bakat kreatif dikelola melalui bisnis dan ditunjang oleh institusi; di mana kompetisi mendorong dan memberi penghargaan pada kreativitas dan kewiraswastaan. Itulah mengapa institusionalisasi kreativitas mampu menjelaskan bagaimana masyarakat-masyarakat tertentu bisa secara produktif mengelola kreativitas untuk memecahkan masalah terberat mereka dan mencapai kemajuan; sementara orang lain tertinggal di belakang, meskipun mereka memiliki keberlimpahan kreativitas dan budaya. Indonesia termasuk yang mana?

Bidang ekonomi kreatif bukannya tanpa sumbangsih pada bangsa dan negara. Secara nyata, pada tahun 2002-2008 industri kreatif menduduki peringkat 6 dari 10 dibandingkan dengan industri lainnya, dengan rata-rata kontribusi PDB sebesar 7,8% terhadap PDB nasional.2 Industri kreatif ini meliputi lima belas sub-sektor yang di antaranya termasuk kerajinan, kuliner, arsitektur, fashion, periklanan, musik, film, hingga desain dan video game. Kita memiliki 250 juta kepala dengan kepribadian unik dan latar belakang budaya kaya yang mampu menambah kontribusi ekonomi kreatif secara lebih signifikan lagi dengan binaan dan naungan yang baik. Pertanyaan saya adalah siapa yang akan membina semua potensi kreatif dan ekonomi ini?

Dibentuknya sebuah badan ekonomi kreatif merupakan angin segar bagi para seniman dan pencipta di Indonesia. Sekarang yang kita butuhkan adalah kepastian hukum mengenai pembinaan dan koordinasi nasional ekonomi kreatif dengan tupoksi yang jelas. Bagaimanapun bentuk badannya, kinerja untuk dan kebijakan terkait bidang ekonomi kreatif harus nyata. Semoga pembentukan infrastrukturnya tidak memakan waktu terlalu lama.

Tahun depan kita sudah memasuki ASEAN Economic Community. Pada era ini, lalu lintas ekonomi dibuka luas di antara negara ASEAN, termasuk pertukaran tenaga kerja. Rakyat Indonesia harus mampu bersaing dengan mereka dari negara ASEAN lainnya. Lagipula sumber daya alam kitapun lambat laun akan habis. Akan tetapi kepala kita akan selalu mampu berpikir, hati selalu mampu mengolah rasa, tubuh ini selalu mampu berkarya. Cipta, rasa, dan karsa. Pada akhirnya kreasilah yang akan membawa kita maju sebagai bangsa dan negara.

Seperti yang Bapak Jokowi sampaikan pada pidato pelantikannya, “Kita juga ingin hadir di antara bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan martabat, dengan harga diri; ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradaban sendiri; bangsa besar yang kreatif, yang bisa ikut menyumbangkan keluhuran bagi peradaban global.”

Kami nantikan kabar baik selanjutnya, Pak Jokowi.

1 United Nations Industrial Development Organization, Creative Industries for Youth: Unleashing Potential and Growth, “Development Policy and Creative Industries” working paper, Political Symposium, European Forum Alpbach 2012, 2013, hlm. 1.
2 Studi Industri Kreatif Indonesia 2009, hlm. 106-107.

Tags: , ,