Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas pengantar singkat tentang Hak Cipta. Untuk menyegarkan ingatan kita tentang apa itu Hak Cipta, berikut adalah definisinya:

Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 nomor 1 UU Hak Cipta).

Jika diperhatikan lagi, dalam definisi tersebut terdapat kata ‘Pencipta’. Siapa, sih, yg dimaksud sebagai Pencipta?

Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi (Pasal 1 nomor 2 UU Hak Cipta).

Itu kan definisi Pencipta berdasarkan Undang-undang. Untuk sederhananya, Pencipta kalau di industri musik itu, ya, si penulis lagu dan/atau composer-nya; kalau di literatur, ya, si penulis bukunya, (dan selanjutnya pasti sudah pada tahu kan ya).

Lalu, setelah ‘Pencipta’, ada lagi istilah ‘Ciptaan’. Apa, sih, yg dimaksud dengan Ciptaan?

Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra (Pasal 1 nomor 3 UU Hak Cipta).

Sekarang setelah kita tahu apa itu Hak Cipta, siapa yg dimaksud dengan Pencipta, dan apa objek dari Hak Cipta itu sendiri, yaitu Ciptaan; kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah: bentuk nyata dari Hak Cipta itu apa, dong? Apa gunanya, nih, kita tahu soal Hak Cipta dan lain-lain ini?

picjumbo.com_IMG_7925

Pernah bertanya-tanya nggak kenapa seseorang bisa melakukan jual beli lukisan? Atau jual beli lagu? Jual beli foto? Atau bahkan jual beli tulisan?

Secara rasional, kita bisa bilang, “Gue yang bikin foto ini, ya gue yang bisa jual lah!” Pemikiran sederhananya begitu, “Gue yang bikin, gue yang jual.” Namun itu tidak serta merta bisa menjelaskan, kenapa yang jual bisa orang lain? Kenapa lagu yang dikarang oleh X bisa dinyanyikan oleh Y?

Mari kita sederhanakan. Jika seseorang memiliki “hak” atas suatu benda, baik berwujud maupun tidak berwujud, maka pemilik dapat melakukan apa saja terhadap benda tersebut. Nah, dalam konteks Hak Cipta, terdapat dua hak paling mendasar yang bisa kita pecah, yaitu Hak Ekonomis dan Hak Moral, di mana keduanya dimiliki oleh Pencipta.

Menurut penjelasan UU Hak Cipta, Hak Ekonomis adalah hak yang memungkinkan Pencipta untuk mendapatkan keuntungan ekonomis dari hasil Ciptaannya. Ini yang menjadi dasar dari royalti dan membuat suatu Ciptaan dapat diperjualbelikan. Sedangkan, Hak Moral adalah hak pengakuan ke masyarakat umum, bahwa suatu Ciptaan adalah milik atau ciptaan sang Pencipta. Ini menjadi landasan bahwa suatu ide itu tidak boleh diplagiat. Untuk informasi lebih lengkap terkait hak moral bisa dilihat di Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works, September 9, 1886, art. 6bis, S. Treaty Doc. No. 27, 99th Cong., 2d Sess. 41 (1986).

Seluruh transaksi yang terjadi dalam keseharian bisnis industri hiburan, baik itu film, musik, buku, maupun foto, relatif berputar-putar di antara kedua hak ini. Titik beratnya tentu pada Hak Ekonomis.

Dalam industri musik, umumnya Pencipta mendapat kompensasi berupa royalti, yaitu sekian persen dari seluruh penjualan Ciptaannya. Pada praktik bisnisnya, memang royalti lebih dikenal dalam industri musik, namun bukan berarti terbatas hanya pada industri musik saja. Hak ekonomis berlaku bagi setiap Pencipta atas Ciptaannya, di bidang apapun itu.

Lalu, bagaimana dengan fotografer? Apakah seorang fotografer tidak mendapat royalti layaknya Pencipta dalam industri musik? Tentu saja mereka berhak atas royalti dalam kapasitasnya sebagai Pencipta dari foto yang dihasilkannya, baik untuk foto yang dicetak di majalah, dicetak di kaos dan lain sebagainya, dan hal tersebut sah-sah saja. Namun, kadang terjadi keadaan di mana Pencipta memilih untuk menjual hak ekonomisnya dalam bentuk jual putus sehingga Pencipta tidak lagi mendapat royalti atas Ciptaannya. Praktik ini jelas lebih menguntungkan bagi pengguna Ciptaan tersebut, seperti label rekaman atau perusahaan publikasi.

Dari kedua pilihan tersebut, mana yang lebih menguntungkan, royalti atau beli putus? Semua itu akan kembali ke pertimbangan bisnis yang memang menjadi suatu pemikiran tersendiri. Sebagai ilustrasi, Budi menciptakan sebuah lagu yang ia jual kepada suatu label, dan lagu tersebut kemudian dijual dengan harga Rp 1.000. Dalam hal ini, Budi mendapatkan royalti sebesar 5%, yang artinya ia mendapatkan Rp 50 dari setiap lagu yang terjual. Bilanglah lagu tersebut terjual sebanyak 1.000 kali. Artinya:

(Rp 1.000 x 5%) x 1.000 = Rp 50.000

Rp 50.000 adalah penghasilan yang Budi dapat dari karyanya tersebut di atas. Bandingkan apabila Budi menjual putus karyanya seharga Rp 100.000. Dengan skema di atas, tentu Budi relatif lebih untung. Namun bayangkan potensi keuntungan yang Budi bisa dapatkan melalui skema royalti apabila karyanya terjual hingga 10.000 kali.

Dari ilustrasi di atas, tentu sudah terbayang dong, sisi positif dan negatif dari royalti dan beli putus? Jadi, para Pencipta, lebih mau dibayar putus? Atau royalti?

Sumber di sini.

Tags: ,