Tulisan oleh Meyanne R.

Melalui sebuah postingan instagram, Crowd Surfers ID (“CSID”) mengklaim telah menjadi pemegang merek yang sah dari kata-kata “Emo Night” dan “Emo Night JKT” di Indonesia per bulan Juni lalu. Non-profit organization yang memang biasa mengadakan acara musik bergenre “emo” di Jakarta itu kemudian melarang penggunaan kata-kata tersebut tanpa persetujuan CSID sebagai pemilik merek.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, postingan tersebut menuai kontroversi hingga akhirnya dihapus. Sebagai gantinya, CSID mengunggah postingan baru yang berisikan permohonan maaf dan penjelasan bahwa objek yang mereka daftarkan adalah kata-kata “EMONIGHTJKT by Crowd Surfers” dengan logonya.

Foto oleh lifesimply.rocks di Unsplash

Berdasarkan penelusuran Klikonsul, CSID mengajukan permohonan pendaftaran merek atas “EMONIGHTJKT by Crowd Surfers” dan logo CSID untuk kelas merek 41, yaitu kelas atas merek untuk jasa-jasa di bidang, di antaranya, hiburan. Permohonan tersebut dianggap memenuhi persyaratan minimum per tanggal 24 Mei 2019. Namun, mereknya sendiri belum terdaftar karena proses pendaftaran merek memang panjang dan dapat memakan waktu rata-rata dua tahun.

Selama belum dinyatakan terdaftar, CSID belum dapat mengklaim kepemilikan merek atas kata-kata “EMONIGHTJKT by Crowd Surfers” dan logonya. CSID belum mendapatkan perlindungan hukum maupun hak untuk melarang pihak lain dalam menggunakan kata-kata dan logo yang sedang didaftarkannya. Sembari menantikan hasil permohonan pendaftaran merek tersebut, menarik adanya untuk membahas apakah merek yang sedang dimohonkan CSID dapat didaftarkan atau tidak.

Undang-Undang No. 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (“UU Merek”) mengatur bahwa merek tidak dapat didaftarkan jika, di antaranya, tidak mempunyai daya pembeda dan/atau merupakan nama umum. Terkait dengan kriteria “nama umum”, UU Merek mecontohkan bahwa “rumah makan” tidak dapat didaftarkan menjadi merek dari sebuah restoran. Contoh lainnya adalah kata-kata “warung kopi”, yang tidak dapat didaftarkan sebagai merek dari sebuah kafe.

Secara sekilas, kata-kata “EMONIGHTJKT by Crowd Surfers” dan logonya menunjukkan sebuah kombinasi merek yang memiliki daya pembeda dan bukan merupakan sebuah nama yang umum. Jika dibandingkan dengan “Emo Night” dan “Emo Night JKT”, “EMONIGHTJKT” merupakan kombinasi huruf-huruf yang menghasilkan sebuah kata baru yang tidak ditemukan secara umum. Penambahan “by Crowd Surfers” menguatkan daya pembeda dari merek tersebut. Besar kemungkinan merek “EMONIGHTJKT by Crowd Surfers” dapat didaftarkan.

Di sisi lain, merek atas kata-kata “Emo Night” atau “Emo Night JKT” mungkin tidak dapat didaftarkan. Di kalangan pencinta musik emo, “Emo Night” merupakan nama yang umum untuk acara karaoke lagu-lagu emo. Begitu pun dengan “Emo Night JKT”, yang pada dasarnya merujuk pada acara karaoke lagu-lagu emo di Jakarta.

Selain itu, tidak ada unsur dari “Emo Night” atau “Emo Night Jkt” yang dapat membedakan bahwa acara tersebut diadakan oleh CSID, misalnya, atau pihak lain yang mengadakan acara serupa. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan dari adanya merek itu sendiri, yaitu membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh suatu pihak dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.  

Selain itu, jika kata-kata “Emo Night” atau “Emo Night JKT” dapat diklaim sebagai merek salah satu pihak, maka pihak lain tidak bisa menggunakan kata-kata “Emo Night” atau “Emo Night JKT” lagi saat menyelenggarakan acara karaoke untuk lagu-lagu dengan genre musik emo. Bukan tidak mungkin pemegang merek “Emo Night” atau “Emo Night JKT” dapat memonopoli pasar acara karaoke lagu-lagu emo di Indonesia dan menghambat konsumen untuk mendapatkan pilihan.

Lebih dari itu, pendaftaran merek atas kata-kata yang bersifat umum dan tidak mempunyai daya pembeda tersebut dapat menjadi preseden yang mendorong pihak-pihak lain mendaftarkan merek atas hal serupa seperti, “Top 40 Night” atau “RnB Night”. Jika keadaan ini terjadi, pilihan konsumen akan menjadi semakin terbatas dan muncul lah kompetisi yang tidak sehat di pasar Indonesia.

Terlepas dari semua ini, polemik pendaftaran merek ini juga sedikit banyak mengajarkan bahwa pelaku usaha perlu berhati-hati dalam mem-posting konten di sosial media. Saat berbicara mengenai merek, kita berbicara mengenai citra atau image dari barang dan/atau jasa. Citra yang kurang menyenangkan dapat mempengaruhi pandangan masyarakat atas suatu merek atau brand dan kemudian mempengaruhi tingkat konsumsi mereka atas produk yang dinaungi merek tersebut. Karena jejak digital itu sulit dihapus, maka bukan tidak mungkin citra tersebut melekat pada merek si produk untuk waktu yang lama dan akan merugikan si pemilik merek itu sendiri. 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*