Mungkin banyak yang sudah sering mendengar istilah Hak Cipta ketika kita berbicara mengenai suatu karya seni. Artikel ini secara khusus akan memberikan gambaran lebih rinci mengenai apa yang dimaksud dengan Hak Cipta, dan bagaimana konsep tersebut berlaku di Indonesia. Hak Cipta ini merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh para pelaku ekonomi kreatif karena konsep ini merupakan suatu bentuk perlindungan hukum yang dapat kamu gunakan untuk melindungi kepentinganmu atas karya yang kamu buat.

Misalnya, kamu adalah seorang penulis. Suatu hari, kamu berhasil menyelesaikan sebuah cerita dan kamu tunjukkan ceritamu itu ke teman-temanmu. Beberapa waktu kemudian, kamu sedang membaca suatu majalah dan kamu menemukan ceritamu diterbitkan… namun bukan namamu yang dicantumkan sebagai penulisnya. Bagaimana perasaanmu?

Contoh lain, kamu membuat suatu komposisi musik dan merekamnya tanpa kamu perdengarkan ke khalayak umum. Namun suatu ketika kamu mendengar sebuah lagu yang menggunakan komposisi yang sudah kamu buat dengan susah payah dan orang lain mengakuinya sebagai karyanya. Mereka pun menjadi terkenal karena karyamu itu. Apa yang akan kamu lakukan?

Bagi para pelaku ekonomi kreatif, ide yang kamu tuangkan ke dalam karyamu, entah itu berbentuk tulisan, lagu, lukisan, atau bentuk karya lainnya, adalah asetmu. Dan ketika kita bicara mengenai aset, hal tersebut merupakan sesuatu yang bernilai ekonomis. Karena dalam proses pembuatannya, kamu meluangkan waktumu, mengerahkan segenap pikiran dan kemampuanmu, atau mungkin mengerahkan sumber daya lain, seperti teman-temanmu, sejumlah uang, dan hal lainnya untuk menghasilkan sebuah karya yang dapat kamu banggakan. Pertanyaannya, bagaimana kamu bisa memastikan nilai ekonomis itu bisa kamu dapatkan ketika aset yang kamu gunakan merupakan sesuatu yang abstrak?

Di sinilah Hak Cipta akan memainkan peran pentingnya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Hak Cipta? Hak Cipta, atau copyright, adalah “…a legal term used to describe the rights that creators have over their literary or artistic works (WIPO).” Selama karyamu merupakan suatu karya tulis atau karya seni, mereka berada di bawah lingkup benda yang pembuatnya berhak atas suatu Hak Cipta.

World Intellectual Property Organization (WIPO) menyatakan bahwa umumnya karya yang dilindungi oleh hak cipta berupa:

• karya tulis, seperti novel, puisi, naskah, reference works, artikel surat kabar;
• program komputer, database;
• film, komposisi musik, koreografi;
• karya seni, seperti lukisan, foto, potret, patung;
• arsitektur; dan
• iklan, peta, dan gambar teknik.

Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa yang dilindungi oleh Hak Cipta adalah hasil karyamu. Kamu boleh berimajinasi sejauh mungkin untuk hasil karyamu, namun selama kamu belum berusaha menuangkannya ke dalam suatu karya nyata, hal itu tidak akan mendapatkan perlindungan berupa Hak Cipta.

copyright symbol

Di Indonesia sendiri payung hukum untuk Hak Cipta ini baru saja diperbaharui melalui Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), yang mencabut peraturan Hak Cipta lama. UU Hak Cipta memberikan definisi Hak Cipta sebagai “…hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Defini tersebut menyampaikan bahwa Hak Cipta merupakan suatu hak yang secara alami dimiliki oleh seorang Pencipta atas karyanya. Kemudian, hal yang penting untuk menyatakan nama Pencipta atas suatu Ciptaan. Selain Hak Cipta, UU Hak Cipta juga memberikan perlindungan terhadap Hak Terkait, yang didefinisikan sebagai “…hak yang berkaitan dengan Hak Cipta yang merupakan hak eksklusif bagi pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau Lembaga Penyiaran.”

Berdasarkan Pasal 4 UU Hak Cipta, terdapat 2 bentuk hak bersifat eksklusif yang berada di bawah perlindungan Hak Cipta, yaitu hak moral dan hak ekonomi. Hak moral merupakan hak yang melekat pada diri pencipta untuk melakukan berbagai tindakan atas karya atau ciptaannya, seperti (i) memutuskan apakah ia ingin mencantumkan namanya atau tidak pada salinan dari karya yang dibuatnya, (ii) menggunakan nama alias atau samaran, (iii) mengubah karyanya, (iv) mengubah judul atau anak karyanya, atau (v) mempertahankan haknya jika terjadi hal-hal terhadap ciptaannya yang dapat merugikan kepentingannya (Pasal 5 ayat (1) UU Hak Cipta). Karena hak moral ini melekat pada diri pencipta, maka hak moral ini tidak dapat dialihkan kepada pihak lain selama pencipta masih hidup (Pasal 5 ayat (2) UU Hak Cipta).

Lain halnya dengan hak moral, hak ekonomi merupakan suatu benda bergerak tidak berwujud yang dapat dialihkan oleh pemilik atau pemegang Hak Cipta ke pihak lainnya (Pasal 16 ayat (1) UU Hak Cipta). Berdasarkan Pasal 8 juncto Pasal 9 UU Hak Cipta, hak ini memungkinkan kamu untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari karya yang kamu hasilkan melalui kegiatan berikut (Pasal 9 ayat (1) UU Hak Cipta):

• penerbitan karya;
• penggandaan karya dalam segala bentuknya;
• penerjemahan karya;
• pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian karya;
• pendistribusian karya atau salinannya;
• pertunjukan karya;
• pengumuman karya;
• komunikasi karya; dan
• penyewaan karya.

Salah satu catatan penting mengenai pengalihan hak ekonomi tersebut diatur dalam Pasal 18 UU Hak Cipta, yaitu kewajiban pengembalian Hak Cipta atas buku dan/atau musik, kepada Penciptanya, yang telah dialihkan dengan jual putus dan/atau tanpa batas waktu, setelah 25 tahun sejak tanggal perjanjian pengalihan tersebut. Dengan ini, tidak ada lagi buku dan/atau musik yang dapat dieksploitasi selamanya oleh satu orang pihak saja. Selain itu, UU Hak Cipta yang baru ini juga akhirnya secara resmi mengatur kebolehan penggunaan Hak Cipta sebagai objek jaminan fidusia (Pasal 16 ayat (3) UU Hak Cipta). Sederhananya, Hak Ciptamu bisa kamu ‘gadaikan’.

Yang menjadi pertanyaan, karya apa saja yang dilindungi oleh UU Hak Cipta? Pasal 40 UU Hak Cipta mengatur bahwa karya yang dilindungi adalah karya dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang terdiri atas:

• buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
• ceramah, kuliah, pidato, dan karya sejenis lainnya;
• alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
• lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;
• drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
• karya seni rupa dalam segala bentuk, seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;
• karya seni terapan;
• karya arsitektur;
• peta;
• karya seni batik atau seni motif lain;
• karya fotografi;
• Potret;
• karya sinematografi;
• terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
• terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;
• kompilasi karya atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer maupun media lainnya;
• kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
• permainan video; dan
• Program Komputer.

Sekian gambaran singkat mengenai Hak Cipta secara umum, maupun bagaimana perlindungannya di Indonesia. Masih banyak hal dalam UU Hak Cipta yang akan kami bahas pada artikel-artikel berikutnya. Untuk sementara, kami harap tulisan ini mampu memberikan gambaran mengenai hubungan antara karyamu dan perlindungan hukumnya. Daripada kamu mengalami kerugian karena karyamu dicuri atau diakui oleh pihak lain, dengan Hak Cipta, kamu dapat memberikannya perlindungan terlebih dahulu.

Sumber di sini.

Tags: