Sebelumnya Klikonsul telah membahas secara singkat terkait konsep Hak Cipta dan mengapa Hak Cipta itu penting sebagai bentuk perlindungan atas Ciptaan. Hak Cipta melindungi Pencipta atas Ciptaannya. Namun siapa saja sih yang dimaksud Pencipta? Bagaimana dengan Ciptaan yang dibuat oleh sekelompok orang? Apa bedanya Pencipta dan Pemegang Hak Cipta? Klikonsul akan menjelaskan secara singkat terkait hal-hal tersebut dalam dua bagian yang berbeda.

Kali ini, Klikonsul akan terlebih dahulu membahas siapa-siapa saja sih yang dimaksud sebagai Pencipta dalam penyusunan suatu Ciptaan.

Pada intinya, kita bisa mengenali siapa yang dimaksud dengan Pencipta di dalam sebuah Ciptaan apabila nama mereka disebut/dinyatakan sebagai Pencipta dalam sebuah Ciptaan, atau apabila sebuah Ciptaan dicatatkan, maka nama mereka akan disebutkan/tercantum dalam surat pencatatan Ciptaan. Dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 (UU Hak Cipta), siapa yang dimaksud dengan Pencipta dijelaskan dalam Pasal 1 angka 2, yang menjelaskan bahwa, “Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.”

Dari definisi di atas, kita bisa melihat bahwa mudah memang menganalisa siapa Pencipta dari suatu Ciptaan apabila hanya terdapat seorang Pencipta, seperti misalnya, Dewi “Dee” Lestari ialah Pencipta serial buku Supernova atau Raden Saleh sebagai Pencipta dari lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Namun bagaimana dengan Ciptaan lain, di mana beberapa orang berkolaborasi untuk menciptakan sebuah Ciptaan, seperti film atau buku kompilasi cerita pendek (cerpen)?

Peraturan di Indonesia menjelaskan terkait hal ini dalam Pasal 33 dan Pasal 34 UU Hak Cipta. Secara singkat dijelaskan dalam Pasal 33 UU Hak Cipta bahwa:
“1) Dalam hal Ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh 2 (dua) orang atau lebih, yang dianggap sebagai Pencipta yaitu orang yang memimpin dan mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan.
2) Dalam hal orang yang memimpin dan mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ada, yang dianggap sebagai Pencipta yaitu orang yang menghimpun Ciptaan dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-masing atas bagian Ciptaannya.”

Dalam hal buku kompilasi cerpen, yang dianggap sebagai Pencipta dari buku kompilasi cerpen tersebut ialah orang yang menghimpun cerpen-cerpen tersebut dalam sebuah buku, namun tentunya, tidak mengurangi Hak Cipta dari Pencipta cerpen-cerpen yang dihimpun. Penghimpun buku kompilasi cerpen hanya memiliki Hak Cipta atas buku kompilasi cerpen tersebut secara keseluruhan, sementara Hak Cipta atas cerpen-cerpen secara individual di dalamnya tetap melekat pada pengarang dari cerpen sebagai Pencipta.

Kemudian, Pasal 34 UU Hak Cipta menjelaskan bahwa, “Dalam hal Ciptaan dirancang oleh seseorang dan diwujudkan serta dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, yang dianggap Pencipta yaitu orang yang merancang Ciptaan.”

Logo diambil dari situs resmi The Walt Disney Company.

Di sini kita dapat mengambil contoh karya film sebagai salah satu bentuk Ciptaan. Secara umum, kita mengetahui bahwa banyak sekali pihak yang terlibat dan bekerja dalam proses penciptaan sebuah film, mulai dari produser, sutradara, penulis naskah, sinematografer, penata musik, serta kru-kru yang lain. Dalam hal penciptaan film, terdapat dua sosok prominen dan potensial yang dapat kita sorot sebagai Pencipta film, ialah produser atau sutradara dari suatu film. Kedua peran ini sama-sama dapat menjadi Pencipta film berdasarkan UU Hak Cipta, tergantung siapakah dari kedua orang ini yang merancang serta memimpin suatu produksi film dari awal produksi dimulai hingga selesai.

Film-film yang disusun secara independen misalnya, dengan melihat proses pembuatan film tersebut, dapat kita tentukan bahwa Pencipta dari film tersebut ialah sutradara dari film. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sutradaralah yang merancang, memimpin, dan mengawasi proses penyusunan film tersebut hingga film tersebut layak untuk ditayangkan.

Hal ini tentunya berbeda dengan film-film yang diciptakan oleh studio-studio besar, seperti Disney misalnya. Pada umumnya, film-film yang diproduksi oleh Disney, yang dianggap Pencipta dari suatu film-film tersebut ialah orang-orang yang bekerja di Disney untuk memproduksi suatu film, contohnya Cinderella (2015). Produser dari film tersebut ialah sosok yang disebut Pencipta berdasarkan UU Hak Cipta, mengingat merekalah yang merancang, memimpin, dan mengawasi proses penyusunan dari film tersebut, serta juga memutuskan apakah suatu rangkaian-rangkaian gambar dalam sebuah film dapat disunting dan ditayangkan sebagai suatu film utuh.

Namun demikian, penting bagi tiap-tiap Pencipta dalam film, baik produser maupun sutradara, untuk tetap menyantumkan pihak-pihak yang terlibat dalam produksi suatu film karena pihak-pihak tersebut merupakan Pencipta dari tiap-tiap bagian film yang menjadi tanggung jawab mereka, dan hak-hak ini juga tetap dilindungi oleh UU Hak Cipta yang berlaku di Indonesia.

Identifikasi atas Pencipta dari tiap-tiap karya cipta yang ada merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan Pencipta memiliki hak yang diberikan secara eksklusif oleh negara berdasarkan UU Hak Cipta, baik hak moral ataupun hak ekonomi, untuk mengeksploitasi karya cipta yang telah dihasilkannya tersebut sesuai dengan kepentingan masing-masing Pencipta.

Tags: ,