Praktik percaloan sudah menjadi hal yang dimaklumi dalam penjualan tiket. Untuk pertunjukan di Indonesia sendiri, ramai atau tidak ramai acaranya, kehadiran calo hampir selalu bisa ditemui di sekitar pintu masuk venue. Calo bisa saja menjual tiket di bawah harga asilnya. Namun untuk pertunjukan yang laku, tidak jarang calo menjual tiket berkali-kali lipat lebih mahal dari harga sebenarnya. Baru-baru ini banyak orang Indonesia yang gagal membeli tiket Coldplay untuk pertunjukan tahun depan di Singapura, dan terpaksa membelinya di situs percaloan dengan harga 6-10 kali lipat.

Penjualan tiket yang lebih mahal di pasar sekunder melalui calo sesungguhnya merugikan promotor dan seniman yang melakukan pentas. Selisih harga tiket yang dibayarkan penonton kepada calo dikantongi oleh calo itu sendiri dan tidak diterima sepeserpun oleh seniman yang bersangkutan. Oleh karena praktiknya yang berjalan di bawah tanah dan kurangnya regulasi perihal pasar sekunder, sulit untuk mengukur seberapa besar kerugian yang sebetulnya terjadi.

Marie Connolly dan Alan B. Krueger sendiri, dalam makalahnya yang berjudul Rockonomics: The Economics of Popular Music (2005), mempertanyakan mengapa pasar sekunder bisa ada untuk tiket dan mengapa harga tiket tersebut terkesan murah untuk banyak konser. Sebab jika tiket calo yang mahal saja masih dibeli orang, mengapa promotor tidak memahalkan harga asli tiketnya saja sekalian? Setidaknya keuntungannya bisa dinikmati oleh promotor dan artisnya sendiri. Selain itu, mereka juga mengakui terdapat keterbatasan data mengenai kenaikan harga tiket konser dan pasar sekunder, sehingga menganalisa trend percaloan secara komprehensif menjadi hal yang tidak mudah.

Nama-nama besar di dunia pertunjukan sudah mulai menyuarakan frustrasinya soal masalah ini. Lin-Manuel Miranda, pencipta Hamilton yang sukses besar di Broadway, menekankan bahwa bot yang membeli habis tiket Hamilton dalam hitungan detik telah merugikan para fans-nya, sebab mereka kemudian terpaksa membeli tiket Hamilton di pasar sekunder dengan harga selangit. Tidak butuh waktu lama bagi pemerintah New York untuk menanggapi Miranda dengan mengesahkan peraturan perundang-undangan yang mengatur soal praktik percaloan.

JK Rowling juga vokal dalam menyampaikan rasa prihatinnya terkait pertunjukan Harry Potter and the Cursed Child di Inggris. Ia dan promotor teater tersebut tegas dalam sikap mereka yang akan membatalkan seluruh tiket yang diketahui dibeli di pasar sekunder.

Calo tiket sesungguhnya merugikan konsumen. Tidak hanya ada kemungkinan tiket yang dijual adalah palsu, tetapi konsumen juga terpaksa membeli tiket yang mahal. Pasar sekunder telah menjadi bisnis yang menguntungkan bagi calo, dan fans harus memilih antara tidak menonton sama sekali atau mengeluarkan uang lebih banyak. Promotor perlu menaruh perhatian khusus pada praktik percaloan dan cara-cara mengantisipasinya. Fans sendiri bisa melakukan boykot pribadi terhadap calo dalam rangka mendukung artis favoritnya. Jika tidak ada permintaan di pasar sekunder, mudah-mudahan praktik percaloan bisa berkurang dengan sendirinya.

Sumber di sini.

Tags: , , , , , , , , , ,