Musik, menurut saya sebagai musisi mediocre dan penikmat musik, adalah perpaduan dari bunyi yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu komposisi yang harmonis dan memiliki suatu nilai keindahannya tersendiri.

Terdengar puitis sekali memang. Secara filosofis, saya sendiri berpikir bahwa musik itu adalah cerminan kejujuran nada yang ada di benak si pemainnya. Pertanyaan selanjutnya, apakah musik murni hanya terdiri dari kejujuran saja? Atau justru sebaliknya, sebuah produk yang sengaja diciptakan hanya untuk dijual tanpa memikirkan nilai “seni” dari isinya?

Belakangan sering kita dengar dua kategori musik, yaitu “musik indie” dan “musik major”, atau sinisnya, “musik yang gak jualan” dan “musik jualan”. Dari pembagian itu, saya jadi berpikir apakah hal ini memang diperlukan atau trik bisnis saja. Kita tidak bisa pungkiri, jika kita mendengar stigma “musik idealis”, kita sudah memiliki paradigma tersendiri tentang suatu musik tertentu, bahkan sebelum mendengar atau mengetahuinya.

Contoh sederhana saja. Seandainya kamu adalah pecinta musik metal, biasanya yang terjadi, penikmat musik metal tidak menyukai musik-musik “lembek”, seperti pop melayu misalnya. Tetapi ada kalanya beberapa lagu pop melayu diputar berulang-ulang, dan lama-kelamaan, lagu tersebut akan menempel di kepala kamu, dan tanpa disadari kamupun akan menyanyikan lagu tersebut. Ayo, ngaku!

Mungkinkah bahwa ini semua adalah bagian dari sebuah bisnis? Ada pepatah yang mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”. Jika kamu iseng, coba luangkan waktu untuk membedah lagu-lagu yang menjadi hits di dunia, dan perhatikan berbagai macam aspek di dalamnya. Bukan hanya musiknya, perhatikan juga figur artis yang menyanyikan. Perhatikan bagaimana cara lagu tersebut dipromosikan. Kemudian image yang diciptakan oleh si artis tersebut. Semua itu menjadi hal yang mendongkrak penjualannya.

Contoh sederhana lagi, mari kita perhatikan Lady Gaga. Mungkin lagu yang diciptakan atau dibawakannya tidak se-“idealis” Mozart, tetapi cara yang dilakukan untuk membesarkan musiknya sungguh luar biasa. Menggunakan baju dari daging? Itu salah satu saja. Tapi tengok apa yang dilakukan Gaga sekarang, lalu bandingkan dengan apa yang dilakukan Madonna pada era jayanya terlebih dulu. Adakah suatu pola kemiripan tertentu?

lady_gaga-300x45017

Kembali kepada pertanyaan saya di atas. Jadi, musik itu karya seni atau produk bisnis?

Tidak seperti artikel sebelumnya, tulisan saya ini mungkin tidak memuat informasi yang seberapa banyak. Namun saya ingin berbagi pertanyaan di atas dan mengajak kamu untuk bergabung dalam sebuah diskusi. Sebagai seorang seniman, terutama kalau kebetulan kamu adalah seorang seniman juga, pekerjaan yang kita lakukan adalah membuat sebuah karya seni. Hal ini tidak berlaku terbatas pada musik saja, tentunya, tapi juga pada bentuk karya seni lainnya.

madonna_vogue-video_1990-1

Namun, ketika kita hidup dari hasil karya kita, kita jadi sadar bahwa kita tidak bisa hanya memikirkan karya saja. Sekali-sekali harus dipertimbangkan juga aspek bisnisnya. Tapi kemudian saya juga sadar, bahwa mempertimbangkan aspek bisnis dalam berkarya tidak sama dengan menurunkan level idealisme kita dalam berkarya. Semuanya bisa diseimbangkan.

Melalui tulisan-tulisan kami berikutnya, kami ingin mengajak kamu turut menyumbangkan ide tentang bagaimana aspek artistik, bisnis, dan hukum dapat disinergikan untuk kepentingan seni dan seniman bangsa. Semoga bermanfaat.

Tags: