Sudah pernah nonton film The Social Network? Yup, the one movie that told the story about Facebook. Ingat ‘kan waktu Mark Zuckerberg bertengkar dengan kakak beradik Winklevoss dan Narendra? Mereka menuduh Mark mencuri ide mereka tentang Harvard Connection dan kemudian menyerang Mark dengan klaim copyright infringement. Memang Mark secara tidak langsung mengambil ide dari Harvard Connection dan kemudian mengembangkan Facebook dari ide itu.

Dari sudut pandang tertentu, pencurian ide, sih. Tapi salahkah pencurian ide itu? Secara moral, iya, itu salah. Namun secara hukum? Remember, the copyright law does not protect ideas. Pasal 9 ayat (2) dari Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sudah mengatur bahwa hak cipta hanya diberikan pada perwujudan suatu ciptaan; dan bukan pada ide, prosedur, metode pelaksanaan, atau konsep-konsep matematis semacamnya.

Tapi bagaimana kalau kita punya ide cerita untuk sebuah film yang fantastis? Kemudian kita bagi ide tersebut ke seorang produser, karena kita tidak mampu membuat filmnya? Bagaimana pula kalau kita mau berbisnis, kita berbagi ide bisnis kita ke orang lain demi mendapatkan rekan bisnis yang pas?

Pertanyaan-pertanyaan yang sah dalam konteks ini. Kalau mau berbisnis, memang harus cari partner yang tepat, dan proses pencarian tersebut membuat kamu harus menceritakan ide bisnis kamu ke beberapa orang berbeda. Dalam industri kreatif kolaboratif, seperti film atau pertunjukkan seni misalnya, mau tidak mau kamu pasti harus berbagi ide, kecuali kamu bisa mengerjakan semuanya sendiri. Risikonya, untuk setiap orang yang kamu kasih tahu ide kamu, bertambah juga kemungkinan ide kamu dicuri orang lain.

The Social Network

Nah lho, terus bagaimana dong?

Kalau kita mencontek praktik pertukaran ide di Hollywood, di mana ide sering diberikan oleh penulis penuh mimpi dalam suatu rapat singkat kepada produser yang super sibuk, maka yang digunakan adalah Hukum Ide (the Law of Ideas). Menurut Sherri L. Burr, teori Hukum Ide jatuh di ruang antara tanpa perlindungan dan perlindungan penuh yang diberikan oleh hukum hak cipta, merek, dan paten. Teori ini membatasi penggunaan orang secara bebas terhadap ide yang diungkapkan. Pada praktik umumnya, pemberi ide dan si produser akan memasuki sebuah perjanjian singkat, yang isinya, selain mengatur kerahasiaan ide tersebut, juga kesepakatan bahwa apabila ide tersebut dipakai dan difilmkan oleh si produser, pemberi ide akan dikompensasikan secara layak. Ide memang tidak bisa diproteksi, namun kesepakatan kontraktual dapat membatasi pemanfaatan ide tersebut.

Sayangnya, praktik hukum di Indonesia tidak mengenal konsep Hukum Ide, namun bukan berarti keuntungan-keuntungannya tidak bisa dicontoh di sini. Kita masih bisa memanfaatkan sebuah Non-Disclosure Agreement untuk situasi-situasi seperti yang disebutkan di atas. Non-Disclosure Agreement, atau lazimnya dikenal dengan NDA, adalah sebuah perjanjian yang pada intinya menyatakan bahwa telah terjadi pertukaran informasi yang bersifat rahasia antara para pihak, dan informasi tersebut tidak boleh digunakan secara sembarangan. Suatu NDA yang teliti dan apik umumnya sudah mampu membatasi penggunaan ide. Seandainya Winklevoss dan Narendra menggunakan NDA, mereka mungkin bisa menggugat Mark dengan dasar wanprestasi, dan beban pembuktiannya di pengadilan akan menjadi lebih mudah.

Kok, bisa jadi lebih mudah?

Karena pada dasarnya, NDA menghasilkan sebuah konstruksi yang melindungi suatu komoditas. Dalam contoh di atas, ide film atau ide bisnis kamu menjadi sebuah informasi yang memiliki nilai, oleh karenanya informasi tersebut menjadi sebuah komoditas. Mekanisme NDA memungkinkan ide kamu untuk diproteksi secara tidak langsung.

Apakah 100% bisa menjamin?

Well, not really. Bukan berarti dengan menandatangani NDA, ide kamu tidak bisa dicuri. Risiko dan potensi ide kamu dicuri oleh orang lain akan selalu ada dan hal itu tidak bisa dipungkiri. Setidaknya, dengan adanya NDA, kamu bisa memiliki sebuah sistem proteksi yang dapat kamu terapkan jikalau perlu. Not to mention, akan ada kemungkinan si “calon pencuri” itu akan takut duluan juga setelah tanda tangan NDA. Setidaknya kamu sudah punya keunggulan psikis terhadap si calon pencuri, karena kamu sudah mengikat dia dalam sebuah perjanjian.

So folks, bagaimana menurut kalian? Berminat untuk pakai NDA tidak?

Sumber di sini.

Tags: , , , , ,